Minggu, 12 Mei 2013

Karya tulis ilmiah : Korelasi antara Penggunaan Bahan Pengawet pada Donat terhadap Tingkat Kebusukannya


ini contoh karya tulis.. semoga bermanfaat :)

KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan pertolonganNya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul “Korelasi antara Penggunaan Bahan Pengawet pada Donat terhadap Tingkat Kebusukannya”. Karya tulis ini dibuat dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh bahan pengawet pada makanan olahan dan tingkat kebusukannya. Bahan pengawet banyak dikonsumsi oleh masyarakat zaman sekarang ini. Kita dapat mengambil keuntungan dan kerugiannya. Bagi para produsen, mungkin dapat kita ambil nilai tambahnya. Tetapi bagi pada konsumen, bahan pengawet dapat mengganggu kesehatan. Penulis ingin mengetahui banyak sedikitnya bahan pengawet dan pengaruh tingkat kebusukan pada bahan makanan olahan.
            Penulis menemukan banyak kendala pada penulisan karya tulis ini. Mulai dari penentuan judul, penulis sangat sulit untuk menentukan judul yang tepat, sampai dengan penyusunan karya tulis ini. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Rudy dan semua pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ini.
            Penulis menyadari karya tulis ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penulis sangat terbuka untuk menerima kritik dan saran untuk penyempurnaan karya tulis ini.
Bandung, 30 April 2013

Penulis


ABSTRAK

Karya tulis ilmiah yang berjudul “Korelasi antara Penggunaan Bahan Pengawet pada Donat terhadap Tingkat Kebusukannya” ini dibuat untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia kelas XI semester 2. Dalam karya tulis ini, penulis membahas tentang bahayanya bahan pengawet yang dipakai kebanyakan produsen makanan yang beragi. Penulis membeli tiga merek donat, Jco, Dunkin Donut, dan Bread & Co. Ketiga donat tersebut dibiarkan selama 59 hari. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa ketiga donat tersebut baru mulai tumbuh jamur pada hari yang ke-40. Hal ini menjelaskan bahwa bahan pengawet yang dipakai cukup berbahaya untuk kesehatan, karena, donat tanpa bahan pengawet akan mulai tumbuh jamur dalam kurung waktu 3 hari saja. Oleh karena itu, betapa lebih baiknya jika kita tidak mengonsumsi makanan yang mengandung banyak bahan pengawet. Karena itu dapat mengganggu kesehatan jasmani kita.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena pangan adalah satu-satunya bahan yang dapat menghasilkan energi kita yang kita butuhkan tiap harinya. Pengolahan bahan makanan sangat berpengaruh terhadap pemenuhan gizi masyarakat, maka sangat tidak mengherankan jika semua negara baik negara maju maupun berkembang selalu berusaha untuk menyediakan suplai pangan semaksimal mungkin yang cukup, aman, dan bergizi.
Seiring dengan kemajuan teknologi, manusia terus melakukan perubahan-perubahan dalam hal mengelola bahan makanan. Hal ini wajar karena dengan semakin berkembangnya teknologi, kehidupan manusia semakin hari semakin sibuk sehinngga tidak mempunyai banyak waktu untuk mengelola bahan makanan dan hanya mengandalkan bahan seadanya yang kemudian diolah didapur. Di era zaman sekarang juga kebanyakan manusia hanya ingin semua yang praktis, karena ada pepatah berkata, ‘waktu adalah uang’. Dalam keadaaan demikian, makanan cepat saji (instan) yang telah diolah oleh produsen banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena banyak manfaatnya bagi masyarakat itu sendiri meskipun merusak kesehatan.
Di zaman sekarang ini, produsen makanan ringan sudah ada di mana-mana. Mulai dari produsen makanan sehari-hari, mie, daging-dagingan, sayur-sayuran, seafood, jajanan pasar, dan toko-toko makanan ringan. Toko roti atau sering kita dengar dengan sebutan ‘Bakery’, sudah menjelajah di setiap sudut kota. Para produsen berlomba-lomba untuk mendapatkan hati si pembeli. Semua produsen juga berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Sehingga persaingan dalam dunia bisnis pun semakin panas, ketat, dan merajalela. Hal ini menyebabkan munculnya niat-niat negatif dan niat-niat jahat dalam pikiran tiap-tiap produsen. Dimulai dari kecurangan-kecurangan yang secara sengaja dibuat agar mengelabui para konsumen, kebohongan-kebohongan yang muncul dari setiap perkataan yang diucapkan oleh produsen, maupun bahan-bahan yang telah digunakan dalam memproduksi makanan itu sendiri.
Hampir dan mungkin semua produsen ingin mendapatkan untung yang sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya. Mereka mau mendapatkan untung yang besar-besar biasanya dikarenakan kebutuhan ekonomi yang mereka perlukan. Maka dari itu, banyak produsen makanan yang menggunakan bahan pengawet agar memperlambat kebusukan dan memperkecil kerugian. Hampir setiap produsen memakai bahan pengawet, yang membedakan adalah bahaya tidaknya bahan pengawet yang dipakai untuk kesehatan. Biasanya, semakin banyak bahan pengawet yang dipakai, semakin lama juga tingkat kebusukannya. Hal ini sangat berpengaruh untuk kesehatan manusia khususnya dibagian pencernaan.
Untuk itu, karya tulis yang dibuat ini akan memperlihatkan dan menjelaskan bahaya atau tidaknya bahan pengawet yang dipakai pada donat. Pembahasan dan penjelasan yang dilakukan pun ditinjau dari sudut pandang banyak orang yang berbeda-beda. Dalam karya tulis ini pun akan menyajikan fakta-fakta yang memperkuat tentang bahayanya bahan pengawet terhadap kesehatan manusia. Oleh karena itu, penulis ingin meneliti banyak sedikitnya bahan pengawet pada makanan terhadap tingkat kebusukannya. Hal ini yang menjadi tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini.

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1    Sejauh manakah peranan jamur terhadap tingkat pengawetan donat?
1.2.2    Bagaimana kondisi fisik meliputi aroma dan kepadatan pada donat secara keseluruhan?

1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1    Mengetahui sejauh mana peranan jamur terhadap tingkat keawetan donat.
1.3.2    Mengetahui kondisi fisik meliputi aroma dan kepadatan pada donat secara keseluruhan.

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi penulis, penelitian ini dapat melatih untuk mengembangkan keterampilan dalam membaca, dapat melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber, meningkatkan sistem kerja dalam mencari data dan fakta secara jelas dan sistematis, dan menambah wawasan penulis tentang peranan jamur terhadap tingkat keawetan donat.
1.4.2        Bagi pembaca, penelitian ini dapat membuka wawasan pembaca tentang bahayanya bahan pengawet makanan.
1.4.3        Bagi perkembangan ilmu pengetahuan, penelitian ini dapat membuktikan bahayanya bahan pengawet makanan terhadap kesehatan manusia terutama pada makanan yang bermerek. Penelitian ini juga dapat memberi sumbangan ilmu yang sangat berharga pada perkembangan ilmu pengetahuan.

1.5  Batasan Penelitian
1.5.1        Jenis donat pada penelitian ini hanya terbatas pada donat yang terbuat dari tepung saja. Tidak yang terbuat dari kentang ataupun bahan yang lainnya.
1.5.2        Merek donat yang diteliti ini hanya terbatas pada donat merek Jco, Dunkin Donut, dan Bread & Co saja.
1.5.3        Jenis donat yang dipakai terbatas pada donat dengan taburan tepung gula, donat dengan taburan coklat, dan donat dengan selaian krim ditaburi oleh almond.

1.6  Hipotesis
1.6.1        Jamur dapat tumbuh dalam donat dalam kurung waktu kurang lebih 1,5 bulan, hal ini dipengaruhi oleh bahan pengawet makanan yang dipakai. Karena semakin banyak bahan pengawet yang dipakai, semakin lama pula pertumbuhan jamur pada donat.
1.6.2        Kondisi donat bila dilihat secara fisik, aromanya akan tetap sama seperti baru, hal ini disebabkan oleh bahan pengawet yang dipakai cukup banyak.  Teksturnya akan sedikit berair dikarenakan oleh tepung gula yang sudah mencair. Donat akan menjadi sangat keras seperti batu dan sulit untuk dikonsumsi.
 
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Sejarah Perkembangan
2.1.1 Penemu Bahan Pengawet
            Louis Pasteur (1822-1895) lahir di kota Dole tahun 1822, bagian timur Perancis. Sebagai mahasiswa di Paris dia memperdalam ilmu pengetahuan. Kegeniusannya belum tampak tatkala jadi mahasiswa bahkan salah seorang mahagurunya menganggap Pasteur "sedang-sedang" saja dalam ilmu kimia. Baru sesudah dia meraih gelar Doktor di tahun 1847, Pasteur membuktikan ucapan profesornya keliru besar. Penyelidikannya tentang asam traktat (tartaric acid) pada kaca mengangkat derajatnya ke tingkat ahli kimia yang tersohor disaat umurnya baru dua puluh enam tahun.
Kemudian dia mengalihkan perhatiannya kepada penyelidikan tentang peragian dan membuktikan bahwa proses ini persis seperti proses yang terjadi pada sejenis mikroorganisme lainnya dapat memprodusir hasil-hasil yang tidak dikehendaki dalam hal peragian minuman. Pendapat ini segera menuntunnya kegagasan lain bahwa semacam mikroorganisme dapat pula menghasilkan hal-hal yang tidak diharapkan dan dapat membawa pengaruh baik terhadap manusia maupun hewan.
Pasteur dalam laboratoriumnya, Pasteur bukanlah orang pertama yang memasalahkan teori baksil penyakit. Hipotesis serupa telah pernah dikembangkan lebih dulu oleh Girolamo Fracastoro, Friedrich Henle dan banyak lainnya lagi. Tetapi, Pasteurlah yang paling menonjol dalam hal teori kuman penyakit yang dibuktikannya lewat serentetan percobaan dan demonstrasi yang merupakan faktor utama dan meyakinkan masyarakat cerdik pandai bahwa teorinya benar.
Apabila penyakit disebabkan oleh baksil, tampaknya masuk akal bahwa dengan mencegah masuknya baksil itu ke dalam tubuh manusia, penyakit itu bisa dihindari. Karena itu Pasteur menekankan pentingnya metode antiseptik buat para dokter, dan dia punya pengaruh besar terhadap Joseph Lister yang memperkenalkan cara antiseptik kedalam bidang pembedahan.
Bakteri yang berbahaya dapat memasuki tubuh manusia lewat makanan dan minuman. Pasteur mengembangkan teknik untuk memusnahkan mikroorganisme dalam minuman. Teknik ini, jika dipraktekkan, dapat membinasakan susu yang kejangkitan hama sebagai penyebab infeksi.
Tatkala umurnya mendekati pertengahan lima puluhan, Pasteur beralih lagi perhatiannya kepada penyelidikan baksil penyakit ternak, sejenis penyakit infeksi serius yang menyerang binatang ternak dan binatang-binatang lain, tidak kecuali manusia. Pasteur mampu menunjukkan bahwa sejenis baksil menjadi sebab sesuatu penyakit. Karya lebih penting lainnya ialah pengembangan tekniknya memproduksi corak baksil penyakit ternak yang sudah dilemahkan.
Dengan cara disuntikkan ke tubuh ternak, baksil penyakit yang sudah dilemahkan ini dapat menimbulkan penyakit yang ringan dan tidak mengakibatkan fatal sehingga memungkinkan ternak-ternak itu memperoleh kekebalan untuk menghadapi penyakit normal. Demonstrasi Pasteur di depan umum mengenai efektivitas teknik mengebalkan hewan dari baksil penyakit ternak menimbulkan kegemparan. Segera disadari bahwa metode umum dapat digunakan untuk pencegahan rupa-rupa penyakit masyarakat.
Penemuan pribadi Pasteur yang paling termasyhur adalah pengembangan teknik penyuntikan terhadap manusia untuk mencegah penyakit Rabies yang ditakuti. Lain-lain ilmuwan, dengan meniru gagasan dasar Pasteur, sejak itu mengembangkan vaksin untuk mencegah lain-lain penyakit berat seperti tifus dan poliomyelitis.
Pasteur, seorang yang suka kerja luar biasa banyak, menciptakan penemuan-penemuan kurang penting namun tetap berguna bagi keharuman namanya. Adalah tak lain dari penemuannya melebihi arti penemuan orang-orang lain yang secara meyakinkan mendemonstrasikan bahwa mikroorganisme tidak tumbuh lewat pembiakan. Pasteur juga menemukan fenomena anaerobiosis, misalnya sesuatu mikroorganisme dapat hidup dalam ketiadaan udara maupun oksigen. Karya Pasteur mengenai penyakit ulat sutera mendatangkan nilai komersial yang tinggi. Penemuan lainnya adalah pengembangan vaksin untuk mencegah berjangkitnya penyakit kolera pada ayam dan penyakit yang menyerang unggas. Pasteur menghembuskan nafas terakhir di dekat Paris tahun 1895.
Orang sering membuat bandingan antara Pasteur dengan Edward Jenner, ahli fisika Inggris yang mengembangkan vaksin untuk pencegahan cacar. Meskipun Jenner melakukannya 80 tahun sebelum Pasteur, saya menganggap arti penting Jenner tidaklah sebesar Pasteur, karena sistem pengebalannya berlaku hanya untuk satu jenis penyakit saja, sedangkan sistem Pasteur dapat dan telah terbukti ampuh untuk mengebalkan terhadap banyak penyakit.
2.1.2 Sejarah Perkembangan Donat
Asal-usul donat sering menjadi sumber perdebatan. Salah satu teori mengatakan donat dibawa ke Amerika Utara oleh imigran dari Belanda yang juga memopulerkan hidangan penutup lain, seperti: kue kering, pai krim (cream pie) dan pai buah (cobbler).
Cerita lain mengatakan donat berbentuk cincin diciptakan kapten kapal asal Denmark bernama Hanson Gregory. Sang kapten sering harus menyetir kapal dengan kedua belah tangan karena kapal sering dilanda badai. Kue gorengan yang dimakan ketika sedang menyetir ditusukkan ke roda kemudi kapal, sehingga kue menjadi bolong. Kebetulan bagian tengah kue juga sering belum matang, sehingga donat sengaja dibuat berlubang di tengah agar permukaan donat yang terkena minyak bertambah dan donat cepat matang.
2.1.2.1 Sejarah Donat Di Indonesia
Di tahun 1968, stan American Donut di Djakarta Fair (sekarang disebut Pekan Raya Jakarta) merupakan perintis donat yang digoreng dengan mesin otomatis. Sejak itu, American Donut memiliki tradisi tahunan membuka stan di Pekan Raya Jakarta hingga sekarang.
Di tahun 1985, Dunkin’Donuts membuka gerai pertama di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat yang terus berkembang menjadi lebih dari 200 gerai di berbagai kota di Indonesia. Yang kemudian diikuti dengan donat-donat waralaba asing lainnya seperti Master Ring, Master Donut, dan Mister Donut.
Demam donat dibangkitkan kembali oleh J.CO Donuts & Coffee yang membuka gerai pertamanya di Super Mall Karawaci pada tanggal 26 Juni 2005. Keberhasilan J.CO diikuti Krispy Kreme yang membuka gerai donatnya yang pertama di Mal Pondok Indah 2 pada tanggal 31 Agustus 2006. J.CO sebagai merek lokal didirikan oleh Johnny Andrean seorang penata rambut terkemuka di Indonesia.
Donat produksi industri kecil biasanya dijajakan berkeliling menggunakan sepeda atau sepeda motor. Di dalam bus, pedagang asongan menjual donat kemasan kotak dengan cara unik. Donat dalam kemasan dibagi-bagikan ke pangkuan penumpang untuk kemudian dikumpulkan kembali kalau penumpang tidak berminat.
Donat jenis ini disebut juga sebagai donat kampung untuk membedakannya dengan donat-donat yang dijual di mal dan restoran.

2.2 Tinjauan Pustaka
2.2.1 Pengertian Bahan Pengawet
            Bahan pengawet adalah bahan yang digunakan untuk membuat makanan memiliki daya simpan yang lebih lama dan mempertahankan sifat-sifat fisik dan kimia makanan tersebut. Dalam mengawetkan makanan harus diperhatikan jenis bahan makanan yang akan diawetkan, keadaan bahan makanan, cara pengawetan, dan daya tarik produk pengawetan makanan.
            Bahan pengawet juga biasanya ditambahkan dengan sengaja ke dalam makanan dalam jumlah kecil, dengan tujuan untuk memperbaiki penampakan, cita rasa, tekstur dan memperpanjang daya simpan. Selain itu dapat meningkatkan nilai gizi seperti protein, mineral dan vitamin. Penggunaan zat aditif makanan telah digunakan sejak zaman dahulu. Bahan aditif makanan ada dua, yaitu bahan aditif makanan alami dan buatan atau sintetis.
Bahan pengawet merupakan bahan yang bukan secara alamiah menjadi bagian dari bahan makanan, tetapi terdapat dalam bahan makanan tersebut karena perlakuan saat pengolahan, penyimpanan atau pengemasan. Agar makanan yang tersaji tersedia dalam bentuk yang lebih menarik, rasa enak, rupa dan konsistensinya baik serta awet maka sering dilakukan penambahan bahan tambahan makanan yang sering disebut zat aditif kimia (food aditiva). Adakalanya makanan yang tersedia tidak mempunyai bentuk yang menarik meskipun kandungan gizinya tinggi.
Sejak manusia dapat berbudidaya tanaman dan hewan, hasil produksi panen menjadi berlimpah. Bahan-bahan tersebut ada yang cepat busuk, makanan yang disimpan dapat menjadi rusak, misalnya karena oksidasi atau benturan. Contohnya lemak menjadi tengik karena mengalami reaksi oksidasi radikal bebas. Untuk menangani hal tersebut, manusia melakukan pengawetan pangan, sehingga bahan makanan dapat dikonsumsi kapan saja dan dimana saja, namun dengan batas kadaluarsa, dan kandungan kimia dan bahan makanan dapat dipertahankan. Selain itu, pengawetan makanan juga dapat membuat bahan-bahan yang tidak dikehendaki seperti racun alami dan sebagainya dinetralkan atau disingkirkan dari bahan makanan.
Ada bahan pengawet yang berbahaya untuk kesehatan dan ada yang tidak. Mikrobiolog Dan O’Sullivan mengatakan “Bahan pengawet ini ditemukan pada saat pemeriksaan budaya bakteri yang ditemukan dalam usus manusia.” (http://lapar.com/penemuan-penting-yang-membuat-makanan-awet-bertahun-tahun)
Hal tersebut menjelaskan bahwa bahan pengawet mengendap di dalam usus manusia. Hal ini sangat membahayakan kesehatan manusia. Bahan pengawet ini dapat memperpanjang “jangka hidup” beragam makanan hingga berbulan-bulan dan bahkan ada yang sampai bertahun-tahun. Maka dari itu, bahan pengawet sangat berbahaya bagi kesehatan makhluk hidup.
2.2.1.1 Jenis-Jenis Bahan Pengawet
Beredarnya bahan pengawet dan zat adiktif di pasaran baik dalam bentuk makanan dan obat-obatan patut diwaspadai. Inilah beberapa di antaranya yang perlu kita hindari. Keberadaan bahan pengawet dan zat adiktif yang mengancam kesehatan sudah sepatutnya dihindari. Sebelum menjadi masalah serius yang mengganggu kesehatan, menghindari bahan-bahan berbahaya tersebut jadi antisipasi yang dapat dilakukan. Dalam health.okezone.com memaparkan sederet bahan pengawet berbahaya yang perlu dihindari.
Natrium nitrit dan natrium nitrat biasanya digunakan untuk mengawetkan produk daging, mencegah pertumbuhan bakteri, membantu mempertahankan warna merah daging, dan menambahkan rasa enak pada daging asin seperti bacon. Namun, zat ini juga digunakan dalam pelapisan logam, zat reaksi kimia untuk fotografi, dan pewarna tekstil.
Natrium benzoat ialah pengawet yang digunakan dalam cairan asam seperti cuka, jus, atau minuman ringan dan produk makanan seperti margarin dan hamburger cepat saji. Namun, natrium benzoat juga digunakan dalam pembuatan kembang api dan bahan bakar roket besar.
Kalium bromat paling sering ditemukan pada produk roti untuk meningkatkan kualitas tepung. Zat ini bahkan dalam dosis yang sangat kecil dapat membahayakan dan telah dilarang di Kanada, Eropa, dan China.
Kastor ialah penambah rasa alami yang sering digunakan dalam produk rasa buah untuk menambah rasa buah. Namun, kastor tidak terbuat dari buah, tapi dari ekskresi dari kelenjar perineum berang-berang.
Pemanis buatan termasuk sukralosa, sakarin, dan sorbitol sangatlah berbahaya bagi tubuh. Pemanis buatan ini dapat mengganggu metabolisme sehingga dapat menurunkan berat badan, tapi mudah menaikkan berat badan. Zat ini juga dapat menyebabkan sakit kepala, pusing, diabetes, dan kanker.
Hal tersebut menjelaskan bahwa makanan yang kita makan sehari-hari banyak yang mengandung bahan pengawet yang dapat membahayakan tubuh kita, dan ternyata bahan pengawet ada dihampir setiap makanan. Kita harus menghindari makanan yang dicampur dengan bahan pengawet.
2.2.1.2 Bahayanya Bahan Pengawet Untuk Kesehatan
Dalam www.healthiskesehatan.blogspot.com dikatakan bahwa bahan pengawet dapat memberi pengaruh buruk untuk kesehatan, ada bahan pengawet yang legal dan ada juga yang ilegal atau dilarang.
Bahan pengawet tersebut disebut legal karena menurut BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) dalam kadar tertentu aman untuk digunakan sebagai bahan tambahan pada makanan. Tetapi, ini juga dapat mengganggu kesehatan tentunya, contohnya benzoat, propionat, nitrit, nitrat, sorbat, dan sulfit. Jika dikonsumsi dalam waktu yang lama, akumulasi bahan pengawet tersebut tetap rawan menimbulkan gangguan kesehatan. Terlebih, ada beberapa bahan pengawet yang statusnya masih tidak diketahui seperti nisin dan potasium nitrat. Hal ini terkait dengan media fermentasi dan asal bahannya.
Beberapa bahan pengawet dilarang karena berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan, contohnya adalah formalin dan boraks. Sangat disayangkan karena kedua bahan tersebut masih sering digunakan pada produk-produk home industry sepeti tahu, mie, untuk mengawetkan ikan, daging, buah, dan sayuran dengan kadar tak terkontrol. Para nelayan misalnya, tidak sedikit yang memilih menggunakan formalin daripada es batu karena faktor murah dan praktis. Buah-buahan di supermarket juga rawan formalin. Padahal formalin dan boraks dapat menimbulkan gangguan hati, jantung, pencernaan, kanker, dan yang lainnya. Pada dosis cukup tinggi pengawet ini dapat mengakibatkan pusing, mual, muntah, mencret, kram perut, kejang depresi susunan syaraf, dan gangguan peredaran darah. Dalam dosis kecil, pengawet akan diserap tubuh dan efeknya baru akan terasa setelah akumulasi pengawet dalam tubuh cukup tinggi.
2.1.2 Pengertian Pembusukan Makanan
            Pembusukan makanan adalah rusaknya nilai gizi, tekstur, serta rasa dari makanan sehingga tidak layak untuk dikonsumsi karena berbahaya bagi kesehatan. Pembusukan ini ditandai pada adanya perubahan pada tekstur, warna, dan aroma pada makanan tersebut.
            Pada buah yang busuk, terkadang tumbuh jamur, rasanya pun berubah, tersturnya menjadi lembek dan kadang-kadang terdapat ulat atau belatung. Pembusukan pada nasi dan susu disebut basi sedangkan pada kue dan roti disebut berjamur. Pada daging dan sayur-sayuran, ditandai dengan munculnya belatung dan sayur-sayuran menjadi layu.
            Pembusukan yang terjadi pada makanan tergantung pada jenis makanannya sendiri. Misalnya jika didalam makanan tersebut terdapat ragi, maka bila makanan tersebut dibiarkan dengan waktu yang cukup lama, makanan tersebut akan berjamur. Hal tersebut berlaku tergantung jenis makanannya. Pembusukan makanan yang disebabkan oleh jamur atau bakteri disebut juga mikroba.
            Ada juga beberapa makanan yang sengaja dibuat agar menjadi busuk, tetapi tidak membahayakan untuk dimakan. Contohnya adalah oncom, tempe, yoghurt. Oncom berasal dari kacang tanah yang diberi ragi. Tempe berasal dari kedelai yang sudah difermentasikan sedangkan yoghurt berasal dari susu yang telah diberi bakteri Lactobaccilus bulgarius.
2.1.2.1 Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya Pembusukan pada Makanan
            Dr. Suprianto W, mengatakan “Ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya pembusukan makanan, yang pertama adalah mikroorganisme, jamur, dan faktor-faktor lainnya.” (www.foodhealth/pembusukan-makanan)
            Pernyataan itu dapat diartikan bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan pembusukan pada makanan, yang pertama adalah mikroorganisme. Ada tiga jenis mikroorganisme yang menyebabkan pembusukan makanan. Kesatu adalah ragi. Ada dua jenis ragi yaitu true yeast  dan  false yeast. Ragi yang biasanya dipakai untuk roti, mendapatkan proses yang disebut fermentasi (proses yang mengahasilkan alkohol dan CO2). Ragi yang menghasilkan proses fermentasi ini disebut true yeast sedangkan false yeast biasa tumbuh dipermukaan makanan kering, makanan yang mengandung kadar gula tinggi, dan kadar asam yang tinggi.
            Kedua adalah jamur. Jamur pada makanan dapat mengakibatkan penyakit. Gejala yang ditunjukan seperti mual dan pusing. Jamur dapat tumbuh dalam udara normal. Biasanya suhu yang lembab menyebabkan makanan mudah berjamur. Meletakan makanan pada ruang terbuka tanpa ditutup dapat juga merupakan faktor yang menyebabkan makanan ditumbuhi oleh jamur.
            Ketiga adalah bakteri. Bakteri tumbuh pada makanan dengan kadar keasamannya rendah seperti buah dan sayuran. Bakteri tumbuh dalam keadaan suhu normal. Maka dari itu, untuk menghindari tumbuhnya bakteri pada makanan, maka harus disimpan dalam suhu 5oC.
            Selain mikroorganisme, ada juga ontolisis. Mungkin istilah ontolisis masih terlalu asing ditelinga kita. Ontolisis adalah proses pembusukan makanan dikarenakan zat yang terkandung dalam makanan itu sendiri dan adanya zat kimia antara zat ang dikandung dalam makanan dengan oksigen diudara sekitar.
            Enzim juga termasuk kedalam onolisis. Bahan makanan seperti daging lama-kelamaan akan berbau tidak sedap jika tidak diletakan ditemberatur kecil. Hal ini dikarenakan adanya reaksi komponen yang terdapat dalam daging dengan udara sekitarnya.
            Ada juga beberapa faktor yang mengakibatkan pembusukan pada makanan adalah misalnya terkontaminasi oleh serangga. Suhu kentang yang dikupas akan berubah warnanya jika diletakan. Misalnya kentang yang sudah dikupas akan berubah warnanya jika ditekan begitu sajadi tempat yang suhunya tidak sesuai.

 
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Teknik  Pengumpulan Data
            Dalam sebuah penelitian, keberadaaan data menjadi faktor yang sangat penting. Tanpa data, penelitian tidak dapat dilaksanakan, karena data merupakan faktor utama berjalannya penelitian. Sebuah penelitian harus mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya, dan tidak hanya itu, sebuah data harus berdasarkan kebenaran yang ada. Jika tidak, karya ilmiah tersebut tidak bisa dianggap benar.
            Data adalah catatan atas kumpulan fakta. Data merupakan bentuk jamak dari datum, berasal dari bahasa Latin yang berarti "sesuatu yang diberikan". Dalam penggunaan sehari-hari data berarti suatu pernyataan yang diterima secara apa adanya. Pernyataan ini adalah hasil pengukuran atau pengamatan suatu variabel yang bentuknya dapat berupa angka, kata-kata, atau citra. Dalam keilmuan, fakta dikumpulkan untuk menjadi data. Data kemudian diolah sehingga dapat diutarakan secara jelas dan tepat sehingga dapat dimengerti oleh orang lain yang tidak langsung mengalaminya sendiri, hal ini dinamakan deskripsi. Pemilahan banyak data sesuai dengan persamaan atau perbedaan yang dikandungnya dinamakan klasifikasi.
Penelitian ilmiah memiliki 5 jenis teknik pengumpulan data, yaitu : 1.) Teknik pustaka yaitu dokumen dan arsip mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan fokus penelitian merupakan salah satu sumber data yang penting dalam penelitian. Apabila dibutuhkan dalam penelitian ini maka penulis menggunakan dokumen-dokumen berbentuk gambar dan tulisan untuk melengkapi data-data pada penelitian ini. Dan tidak lupa peneliti melampirkan bagian foto, gambar, peraturan, kebijakan dan catatan kehidupan untuk melengkapi bukti pada penelitian ini hal itu dilakukan untuk menambahkan segala bentuk wawasan penulis untuk penelitian ini, sehingga mampu mempertajam analisis penulis dalam menjawab permasalahan ini. 2.) Teknik wawancara yaitu teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, atau setidak-tidaknya pada pengetahuan dan atau keyakinan pribadi. Menurut Susan Stainback (1988), dengan wawancara maka peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang partisipan dalam menginterpretasikan situasi dan fenomena yang terjadi, di mana hal ini tidak bisa ditemukan melalui observasi. 3.) Teknik angket adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. Responden adalah orang yang memberikan tanggapan atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Penggunaan angket merupakan hal pokok pada penelitian survei untuk pengumpulan data. 4.) Teknik observasi atau pengamatan yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap suatu obyek dalam suatu periode tertentu dan mengadakan pencatatan secara sistematis tentang hal-hal tertentu yang diamati. Banyaknya periode observasi yang perlu dilakukan dan panjangnya waktu pada setiap periode observasi tergantung kepada jenis data yang dikumpulkan. Apabila observasi itu akan dilakukan pada sejumlah orang, dan hasil observasi itu akan digunakan untuk mengadakan perbandingan antar orang-orang tersebut, maka hendaknya observasi terhadap masing-masing orang dilakukan dalam situasi yang relatif sama. 5.) Teknik penelitian lapangan/labotarium yaitu metode pengumpulan data dalam teknik penelitian ini yang tidak memerlukan pengetahuan mendalam akan literatur yang digunakan dan kemampuan tertentu dari pihak peneliti. Penelitian lapangan biasa dilakukan untuk memutuskan ke arah mana penelitiannya berdasarkan konteks. Penelitian lapangan biasa diadakan di luar ruangan.
Penelitian yang berjudul “Korelasi antara Banyak Sedikitnya Bahan Pengawet pada Donat terhadap Kecepatan Kebusukannya”  ini menggunakan dua teknik  penelitian yaitu teknik pustaka dan teknik observasi.
3.1.1 Teknik Pustaka
            Teknik Pustaka dalam penelitian ini dilakukan untuk mengumpulkan dari berbagai referensi untuk mendapatkan informasi lengkap dan sebenar-benarmya. Pustaka-pustaka tersebut dikumpulkan dan disatukan agar menjadi sumber data yang benar dan lengkap. Sumber-sumber data tersebut berasal dari website, buku, majalah, surat kabar,dan referensi yang lain.
            Pertama-tama, kita harus mencari sumber data tersebut yang dapat memperkuat penelitian yang kita lakukan. Lalu kita juga harus membuktikan kebenaran fakta tersebut yang dapat dilihat dari sumber-sumber yang lainnya. Maka kita akan mendapatkan sumber data yang tepat untuk penelitian.
3.1.2 Teknik Observasi/Pengamatan
            Teknik Observassi ini dilakkukan untuk meneliti variabel-variabel yang akan diamati. Dalam teknik ini dapat terlihat pengaruh bahan pengawet pada donat. Penulis dapat mengamati secara langsung perkembangan tumbuhnya jamur pada donat.
            Pertama-tama, penulis harus menyediakan variabel-variabel yang akan diamati dan dalam kasus ini adalah berbagai jenis merek donat. Tahap selanjutnya, penulis diharuskan mengamati secara langsung perkembangan yang dialami oleh donat. Lalu penulis mencatat catatan-catatan yang penting untuk berjalannya penelitian. Dalam teknik ini, mungkin harus disediakan kamera agar dapat mengamati lebih detail tentang apa yang kita amati.

3.2 Teknik Analisis Data
Data yang sudah dikumpulkan melalui teknik pengumpulan data adalah data mentah. Data-data itu perlu diolah untuk didapatkan data yang siap uji. Untuk mengujinya, dibutuhkan teknik analisis.  Ada 3 teknik yang digunakan, yaitu : 1.) Teknik Deskriptif yaitu suatu metode dalam meneliti seratus sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pikiran, ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskipsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. 2.) Teknik Komparatif yaitu adalah teknik analisis yang dilakukan dengan cara membuat perbandingan antar elemen yang sama untuk beberapa periode yang berurutan. Tujuan analisis komparatif adalah untuk memperoleh gambaran tentang arah dan kecenderungan tentang perubahan yang mungkin akan terjadi pada setiap elemen laporan keuangan di masa yang akan datang. Informasi hasil analisis komparatif bermanfaat untuk memperediksi tentang kemungkinan yang akan terjadi pada setiap elemen laporan keuangan di masa yang akan datang. 3.) Teknik Kualitatif dan Kuantitatif yaitu metode kualitatif dan kuantitatif merupakan metode penelitian yang secara definisi maupun pelaksanaannya bertolak belakang.
Penelitian ini menggunakan teknik komporatif karena penulis ingin membandingkan banyak sedikitnya jamur pada ke-3 donat.

3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1    Populasi dalam penelitian ini adalah semua jenis makanan beragi.
3.3.2    Sampel dalam penelitian ini adalah donat dengan bermerk Jco, Dunkin
            Donat dan Bread & Co.




BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Peranan Jamur terhadap Tingkat Pengawetan Donat
            Di zaman sekarang ini, toko roti sudah tersebar di mana-mana. Para produsen berlomba-lomba untuk memenangkan hati sang pembeli dengan cara menjadi yang terbaik di antara yang terbaik. Sehingga, hal ini menyebabnya munculnya niat-niat negatif dalam pikiran tiap-tiap produsen.
            Dalam bidang bisnis donat misalnya. Biasanya, donat yang diolah tanpa menggunakan bahan pengawet sangat cepat membusuk, sedangkan donat yang menggunakan banyak bahan pengawet membutuhkan waktu yang lama untuk membusuk. Hal ini menjadi keuntungan yang cukup besar bagi tiap-tiap produsen.
            Dalam penelitian kali ini, penulis mengambil tiga sample donat, yaitu donat Jco, Dunkin Donut, dan Bread & Co. Ketiga donat tersebut akan dibandingkan banyak sedikitnya jamur yang dapat penulis temukan. Ketiga donat tersebut sudah dibiarkan selama 59 hari. Penulis membeli dua jenis donat yang rasanya sama pada merek Jco dan Dunkin Donut. Rasa yang dipilih adalah rasa almond dan polos. Penulis memilih kedua rasa tersebut karena dikedua toko tersebut, terdapat rasa yang sama. Tetapi pada donat Bread & Co, penulis tidak dapat menemukan jenis donat yang sama dengan donat Jco dan Dunkin Donut. Berikut adalah hasil dari pengamatannya.
4.1.1 Peranan Jamur terhadap Donat yang Bermerek Jco
           
            Setelah 59 hari dibiarkan, jamur pada donat Jco ini mulai tumbuh. Jamur mulai tumbuh pada hari yang ke-42. Pada awalnya, penulis mendapatkan bahwa donat Jco ini akan sulit untuk cepat membusuk. Banyak sumber mengatakan bahwa donat Jco ini baru akan membusuk dalam jangka waktu 1-2 tahun. Tetapi pernyataan tersebut salah karena hasil yang didapat oleh penulis berbeda dengan sumber-sumber tersebut. Penulis mendapatkan bahwa dalam kurung waktu 6 minggu, donat Jco ini sudah berjamur.
            Jenis jamur yang terdapat pada donat dengar rasa almond sangat terdominasi dengan jamur yang berwarna putih. Terdapat juga jamur berwarna hijau dibeberapa daerah, dan ada juga jamur yang berwarna hitam kecoklat-coklatan. Almond yang terlepas dari donat pun berjamur putih. Sedangkan pada donat dengan rasa polos, ditemukan pada permukaan donat bahwa jamur berwarna putih tersebar dengan rata di atas permukaan donat, dan dapat ditemukan juga bercak-bercak jamur berwarna hijau pada donat tersebut.
         
            Hal ini menjelaskan bahwa lamanya jamur yang tumbuh di donat Jco ini sedikit tidak wajar, karena banyak sumber mengatakan, seharusnya donat sudah berjamur dalam kurung waktu satu minggu. Bahan pengawet yang dipakai oleh produsen donat Jco ini cukup berbahaya karena dapat mempertahankan kondisi donat dalam kurung waktu 42 hari.
4.1.2 Peranan Jamur terhadap Donat yang Bermerek Dunkin Donut
                     Jamur yang terdapat pada donat dengan rasa polos ini juga beraneka ragam. Terdapat jamur berwarna putih dibeberapa bagian saja dan terdapat jamur berwarna hijau dibeberapa bagian juga. Pernyataan ini berbeda dengan donat Jco. Pada donat Jco, kita dapat mengetahui bahwa jamur yang berwarna putih terdapat disetiap permukaan atas donat.
            Hal ini menjelaskan bahwa jangka waktu yang diperlukan donat untuk membusuk sangat tidak wajar. Sama halnya dengan donat Jco, donat bermerek Dunkin Donut juga membutuhkan jangka waktu yang cukup lama untuk membuat donat tersebut busuk. Hal ini disebabkan oleh bahan pengawet yang dipakai oleh produsen cukup keras dan mungkin berbahaya bagi kesehatan manusia.
4.1.3 Peranan Jamur terhadap Donat yang Bermerek Bread & Co
            
            Jumlah jamur pada donat Bread & Co ini berbeda dengan donat Jco dan Dunkin Donut. Jamur muncul pada hari yang ke-31. Sehingga dapat diartikan bahwa donat Bread & Co ini cukup layak untuk dikonsumsi dibandingkan dengan kedua donat yang lain. Tetapi cukup mengherankan karena jika penulis lihat pada kode produksinya, disitu tertera bahwa donat akan membusuk dalam 3 hari. Tetapi kenyataannya donat baru mulai membusuk dan bertumbuh jamur pada hari yang ke-31.
            Penulis membeli donat Bread & Co ini dihiasi dengan taburan coklat pada permukaan atasnya, sehingga permukaan donat tertutup semua dengan coklat. Pada donat ini dapat ditemukan jamur berwarna putih yang tumbuh di atas permukaan coklat. Tidak terlihat jamur yang berwarna hijau atau hitam kecoklatan yang tumbuh pada donat Bread & Co ini. Berdasarkan fakta tersebut, penulis belum cukup yakin apakan donat ini layak untuk dikonsumsi atau tidak.
           
            Hal ini juga menjelaskan bahwa donat Bread & Co ini masih belum layak untuk dikonsumsi dikarenakan oleh bahan pengawet yang cukup berbahaya yang terdapat pada donat ini. Bahan pengawet pada donat ini tidak jauh dari donat Jco dan Dunkin Donut. Hal ini dikarenakan oleh jangka waktu yang dibutuhkan oleh ketiga donat ini untuk membusuk. Tidak ada satupun diantaranya yang aman untuk dikonsumsi.

4.2 Kondisi Fisik Donat Secara Keseluruhan
            Banyak makanan dalam kemasan yang tidak tertera kode produksinya dan kapan makanan tersebut tidak layak untuk dimakan. Banyak beberapa orang yang mengabaikan hal tersebut. Padahal hal tersebut dapat menjadi awal dari gerakan hidup sehat kita. Tentu saja bila kita memakan makanan yang sudah tidak layak untuk dikonsumsi, maka tubuh kita pun akan sungkan untuk mengelolanya. Maka dari itu, hal seperti itu harus dihindari.
                        Seperti halnya pada toko kue. Apakah kita tahu ke mana roti-roti yang sudah tidak laku lagi perginya? Roti yang sudah tidak layak untuk dikonsumsi? Jika bahan pengawet tidak ditemukan, maka banyak sekali pengusaha-pengusaha toko kue yang gulung tikar dikarenakan mengalami kerugian berlipat-lipat ganda.
            Sangat sulit untuk membedakan mana makanan yang memakai bahan pengawet secara berlebihan dan yang tidak. Karena, banyak produsen-produsen makanan cepat saji yang memakai bahan pengawet. Dalam penelitian ini, penulis mengambil sampel jenis roti donat yang memakai ragi. Jika donat tersebut memakan bahan pengawet yang berbahaya, maka tidak akan terlihat tanda-tanda pembusukan terjadi. Itulah yang akan diteliti oleh penulis. Berikut adalah hasil pengamatannya.
4.2.1 Kondisi Fisik pada Donat Berdasarkan Aroma
4.2.1.1 Kondisi Fisik pada Donat Jco Berdasarkan Aroma
            Donat Jco yang telah dibiarkan selama 59 hari, aromanya masih sama seperti yang dahulu. Tetapi yang membedakannya adalah jika kita menghisap aromanya lebih dalam, maka akan sedikit tercium bau busuk yang sangat menyengat. Hal ini disebabkan oleh adanya bahan pengawet yang cukup berbahaya yang untuk mempertahankan aroma donat tersebut.
4.2.1.2 Kondisi Fisik pada Donat Dunkin Donut Berdasarkan Aroma
            Donat Dunkin Donut yang telah dibiarkan selama 59 hari, aromanya masih sama seperti dahulu pertama kali penulis beli. Tidak tercium bau-bau busuk lainnya seperti pada donat Jco. Hal ini disebabkan oleh bahan pengawet yang dipakai lebih kuat dari pada bahan pengawet yag dipakai oleh produsen donat Jco.
4.2.1.3  Kondisi Fisik pada Donat Bread & Co Berdasarkan Aroma
            Donat Bread  & Co ini setelah dibiarkan selama 59 hari, aromanya juga tidak berubah sedikitpun. Sama halnya dengan donat Jco dan Dunkin Donut. Hal ini disebabkan oleh bahan pengawet yang dipakai ini cukup kuat sehingga dapat mempertahankan aromanya dengan jangkawaktu yang cukup panjang.
4.2.2 Kondisi Fisik pada Donat Berdasarkan Kepadatan
4.2.2.1 Kondisi Fisik pada Donat Jco Berdasarkan Kepadatan
            Donat Jco ini setelah dibiarkan selama 59 hari, kepadatannya juga berubah menjadi smeakin keras. Tidak empuk lagi seperti waktu pertama kali penulis beli. Kepadatannya berubah  menjadi semakin padat. Hal ini dipengaruhi oleh bahan pengawet yang donat ini pakai.
4.2.2.2 Kondisi Fisik pada Donat Dunkin Donut Berdasarkan Kepadatan
            Donat Dunkin Donut ini setelah dibiarkan selama 59 hari, kepadatannya juga berubah menjadi semakin keras sama seperti donat Jco. Tidak empuk lagi dan mengeras hingga seperti batu. Kepadatannya berubah menjadi semakin padat. Hal ini dipengaruhi oleh bahan pengawet yang produsen pakai.
4.2.2.3 Kondisi Fisik pada Donat Bread & Co Berdasarkan Kepadatan
            Donat Bread & Co ini setelah dibiarkan selama 59 hari, kepadatannya juga berubah menjadi semakin keras sama seperti donat Jco dan donat Dunkin Donut, yang membedakannya adalah donat ini tidak keras seperti batu seperti sama halnya dengan donat Jco dan Dunkin Donut. Tidak terlalu empuk lagi dan sedikit mengeras. Kepadatannya berubah menjadi semakin padat. Hal ini dipengaruhi oleh bahan pengawet yang produsen pakai. Tetapi bila dilihat dari keamanan donat bila dimakan, penulis merekomendasikan donat yang bermerek Bread & Co.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
5.1.1    Setelah donat dibiarkan selama 59 hari, ketiga jenis donat tersebut dalam keadaan berjamur. Donat Jco mulai berjamur pada hari yang ke-42. Sedangkan donat Dunkin Donut mulai berjamur pada hari yang ke-40 dan donat Bread & Co mulai berjamur pada hari yang ke-31. Maka dapat disimpulkan bahwa donat Bread & Co adalah donat yang paling aman untuk dikonsumsi dibandingkan dengan kedua donat lainnya. Pada ketiga donat juga terdapat jamur yang berwarna putih.
5.1.2    Setelah donat dibiarkan selama 59 hari, penulis juga mengamati kondisi fisik dari donat meliputi aroma dan kepadatan donat. Setelah diteliti, aroma ketiga donat sama seperti sewaktu pertama kali penulis beli dan kepadatan ketiga donat tersebut semakit padat dan mengeras seperti batu. Maka dapat disimulkan bahwa, pengaruh bahan pengawet menjadikan ketiga donat ini menjadi mengeras.

5.2 Saran
            Alangkah lebih baiknya jika waktu untuk mengerjakan karya tulis ini diperpanjang untuk memaksimalkan hasil kerja. Alangkah lebih baiknya juga jika pihak sekolah mengeluarkan budget untuk berlangsungnya pengerjaan karya tulis ini.

DAFTAR PUSTAKA




 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar